|
BERKAS MATERI |
Download |
Notes |
Tanah kami sudah serahkan, masih apalagi.doc
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
01-08-2011 |
Author |
|
Benediktus P. Ngalu |
- Peminat Masalah - Masalah Sosial Politik Pemeritahan
- Salah satu penghuni Dusun Wekabu
|
|
"Rai ami fo ti'an, sei sa tenik?" (Timor News, Edisi 35 Thn IV/ Maret - April 2010). Ungkapan dalam Bahasa Tetun ini dalam terjemahan bebas berarti “Tanah kami sudah serahkan, masih apalagi?” Pernyataan ini terungkap dari para pemilik lahan yang secara suka rela menyerahkan tanahnya untuk kepentingan pembentukan Kabupaten Malaka. |
|
Pertambangan Batu Mangan di Timor.doc
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
23-09-2010 |
Author |
|
Dominggus Oktavianus Tobu KIIK |
|
Ketua Umum Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) |
|
Kualitas batu Mangan dari NTT terbaik di dunia, dan jumlah yang terukur saat ini cukup untuk penuhi kebutuhan Indonesia serta Korea Selatan selama lima puluh tahun mendatang. Hal ini disampaikan seorang pejabat ESDM saat berkunjung ke Kupang akhir 2009 lalu. Ini kabar baik atau buruk bagi rakyat NTT? Tampak banyak jawaban negatif. Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur (DPRD NTT) mendesak pemerintah daerah untuk menghentikan seluruh proses eksploitasi mangan di daerah tersebut, sampai ada regulasi (peraturan daerah) di tingkat provinsi yang mengatur hal ini. Namun, sementara tuntutan tersebut dikemukakan, proses eksploitasi terus berlangsung dengan berbagai dampaknya. |
|
Multikulturalisme.doc
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
20-09-2010 |
Author |
|
Dr. Daniel Sparringa |
|
Penulis adalah Dosen pada Universitas Airlangga, Pendiri Komunitas Indonesia untuk Demokrasi, Staf Ahli Presiden
|
|
Sebagai sebuah terminologi, multikulturalisme kadang agak membingungkan karena ia merujuk secara sekaligus pada dua hal yang berbeda: realitas dan etika, atau praktik dan ajaran. Sebagai realitas atau praktik, multikulturalisme dipahami sebagai representasi yang produktif atas interaksi di antara elemen-elemen sosial yang beragam dalam sebuah tataran kehidupan kolektif yang berkelanjutan. Sebagai sebuah etika atau ajaran, multikulturalisme merujuk pada spirit, etos, dan kepercayaan tentang bagaimana keragaman atas unit-unit sosial yang berciri privat dan relatif otonom itu, seperti etnisitas dan agama, semestinya dikelola dalam ruang-ruang publik. |
|
KAUM PAPA.ppt
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
06-09-2010 |
Author |
|
Dion Db. Putra |
|
Wartawan Senior/ Pemred POS KUPANG |
|
Wajah Pers NTT
NTT bukanlah yg terkecil dalam semesta pers nasional. Gudang jurnalis/penulis.
Paradoks dengan kondisi lokal. Kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau.
Puluhan tahun masy NTT jauh dari akses media.
Booming baru terjadi awal tahun 1990-an.
Periode 1999-2003 tercatat 42 media cetak lokal terbit di berbagai wilayah Propinsi NTT.
Satu per satu berguguran.
Minat baca masyarakat NTT tinggi namun tidak ditopang daya beli (ekonomi).
Media bukan kebutuhan prioritas.
|
|
MENGGAGAS KONSERVASI ALAM BERBASIS KEARIFAN LOKAL; SEBUAH TINJAUAN ILMIAH ATAS TRADISI BADU SAU DALA
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
10-07-2010 |
Author |
|
Puplius Meinrad Buru-Berek |
|
Puplius Meinrad Buru-Berek Asal Lahurus-Belu. Sejak tahun 2004 tinggal di Eropa dan sementara masih ambil Magister di Universitas Nasional Austria-Vienna (Wina) |
|
Khusus dalam bidang kebudayaan, orang Fialaran di Belu mengenal apa yang disebut Ukun no Badu, Kneter no Taek (peraturan atau hukum dan larangan, norma dan adat sopan-santun). Dalam hubungan dengan berbagai peraturan dan larangan yang diwariskan oleh leluhur, terutama yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup, orang Fialaran dan Belu pada umumnya mengenal tradisi Badu dan Sau. Dua tradisi yang lahir dari kesadaran mereka akan tanggung jawabnya terhadap kelestarian lingkungan dan penghormatan mereka terhadap alam sebagai sumber yang menjamin kelangsungan hidup mereka. |
|
SAE’ LAKAAN, LETEK LEIMERI, TUN SAMONU SIMBOLISASI PAHAM HIDUP SESUDAH MATI DALAM AGAMAKEPERCAY
|
 |
| File Size |
|
|
|
Upload Date |
10-07-2010 |
Author |
|
Puplius Meinrad Buru/Berek |
|
Puplius Meinrad Buru-Berek Asal Lahurus-Belu. Sejak tahun 2004 tinggal di Eropa dan sementara masih ambil Magister di Universitas Nasional Austria-Vienna (Wina) |
|
Sae Lakaan, letek Leimeri, tun Samonu: mendaki gunung lakaan, menyusuri gunung Leimeri dan turun ke Samonu adalah suatu ungkapan verbal yang sederhana, dan mungkin di zaman ini sudah jarang atau bahkan tidak didengar lagi. Ungkapan verbal ini, sepintas nampaknya tidak punya arti, mungkin hanya sebagai suatu kalimat cercaan dari orang tua untuk anak-anaknya yang nakal. |
|
| [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] |